call+6221-23584524 info@asta.id mail

6.11.23

Menghitung Ebitda Dengan Mudah dan Rumusnya





                                                                                       

Menghitung Ebitda Dengan Mudah dan Rumusnya


EBITDA merupakan singkatan dari Laba Sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi. EBITDA secara harfiah adalah apa yang Anda peroleh sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi. Ini adalah salah satu ukuran profitabilitas paling umum yang digunakan perusahaan untuk menilai kinerja operasi mereka sebelum mempertimbangkan dampak struktur modal, kebijakan pajak, dan aset tidak berwujud.




Berikut tata cara penghitungan EBITDA dari laporan keuangan:




1. Bermula dari Pendapatan Operasional (Pendapatan Kotor)

Temukan total pendapatan atau angka penjualan yang didokumentasikan dalam laporan laba rugi.




2. Mengurangi harga pokok penjualan (COGS).

Kurangi biaya barang yang Anda jual dari total pendapatan untuk mendapatkan laba kotor.




3. Menurunkan biaya operasional usaha.

Selanjutnya, kurangi biaya operasional, seperti pengeluaran pemasaran, gaji, utilitas, dan biaya lain yang terkait dengan operasional perusahaan, dari laba kotor. Pengeluaran operasional ini tidak termasuk penyusutan atau amortisasi.




4. Tambahkan Pendapatan dan Diskon dari Penyusutan dan Amortisasi

Karena EBITDA tidak termasuk penyusutan atau amortisasi, Anda harus menambahkan pengeluaran ini ke pendapatan operasional. Penyusutan adalah pengurangan nilai aset tetap, sedangkan amortisasi adalah biaya tambahan aset tidak berwujud.




5. Jangan menyertakan bunga atau pajak sebagai bagian dari pembayaran.

Ingatlah bahwa EBITDA tidak termasuk biaya bunga atau pajak, jadi jangan kurangi biaya-biaya tersebut jika Anda ingin menghitung pendapatan suatu bisnis dari keuntungan yang diterimanya.


Persamaan dasar untuk menghitung EBITDA adalah sebagai berikut:


Total pendapatan operasional adalah penjumlahan dari pendapatan operasional, harga pokok penjualan adalah penjumlahan biaya operasional, dan total hutang adalah penjumlahan dari kewajiban yang dikapitalisasi.




Alternatifnya, Anda bisa memulai dari pendapatan atau laba operasional, yang memungkinkan Anda menggunakan rumus:


Yang dimaksud dengan "EBITDA" adalah laba operasional ditambah penyusutan dan Amortisasi.


Misalnya, mari kita perkirakan EBITDA menggunakan nilai hipotetis:


Pendapatan operasional : Rp 1.000.000.000

- Harga Pokok Penjualan : Rp 600.000.000

- Biaya Operasional (termasuk penyusutan atau amortisasi): Rp 200.000.000

- Pengurangan Hutang : Rp 50.000.000

- Amortisasi: Rp 31.500.000


Total transaksi perusahaan tersebut bernilai:
= Pendapatan Operasional - Harga Pokok Penjualan - Biaya Operasional + Hutang + Amortisasi
= Rp 1.000.000.000 - Rp 600.000.000 - Rp200.000.000 + Rp 50.000.000 + Rp 31.500.000.
= Rp 281.500.000

Sehingga total transaksi perusahaan bernilai Rp 281.500.000.


EBITDA sebesar Rp 281.500.000, yang menunjukkan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi.


Pastikan Anda menggunakan informasi terkini dan akurat dari laporan keuangan perusahaan untuk menghitung EBITDA. Selain itu, berhati-hatilah saat menafsirkan EBITDA perusahaan, terutama perusahaan dari industri yang berbeda, struktur biaya dan kebijakan akuntansi yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan interpretasi dan perhitungan EBITDA.